Kamis, 11 Januari 2018

Laporan akhir

CBDC – TFI
Character Building Agama


WAWANCARA TOKOH AGAMA
                                               




Wawancara Para Pemuka Agama Mengenai Radikalisme Agama



Identitas Kelompok

Nim
Nama
Jabatan (ketua, anggota)
2001604353
Muhammad Auliya Rizqy
Ketua
2001557470
Alessandro Kotalawala
Anggota
2001579963
Brandon Matthew Tristany
Anggota
2001578784
Nur Rahmat Hidayat
Anggota
2001552835
Thariq Hudha Syahdilla Alintar
Anggota
2001561562
Veren Helin
Anggota
2001562792
Yonathan
Anggota
1801374822
Riyos Osvaldo
Anggota



Kelas
LN01





BINUS UNIVERSITY

2017


HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL / LAPORAN AKHIR

Project Luar Kelas Character Building Agama


1.
Judul Project
:
Wawancara Para Pemuka Agama Mengenai Radikalisme Agama
2.
Lokasi Project
:
1.       Masjid Roudhatul Jannah (Islam)
2.       Gereja Bethel Indonesia Modernland (Kristen)
3.       Vihara Siddharta (Buddha)
3.
Kelompok target kegiatan
:
Para Tokoh Agama
4.
Nama Anggota Kelompok
1.
:
Muhammad Auliya Rizqi
2.
:
Alessandro Kotalawala
3
:
Brandon Matthew Tristany
4.
5.
6.
7.
8.
:
:
:
:
:
Nur Rahmat Hidayat
Thariq Hudha Syahdilla Alintar
Veren Helin
Yonathan
Riyos Osvaldo




5.
Mata Kuliah
:
Character Building Agama
6.
Kelas
:
LN01
7.
Dosen
:
Bpk.Arcadius Benawa














Tangerang18 Oktober 2017

Mengetahui





(Arcadius Benawa)
Dosen CB  Agama

Ketua Kelompok





(Muhammad Auliya Rizqi)




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Character Building Agama adalah salah satu mata kuliah yang bertujuan unuk membentuk karakter dan softskill mahasiswa. Didalam mata kuliah ini terdapat tugas lapangan yang mengimplementasikan teori di kelas kedalam kehidupan yang nyata/konkret.  Tugas lapangan ini bertujuan untuk membantu permasalahan sosial yang sering terjadi di Indonesia.

Salah satu permasalahan sosial yang ada di Indonesia yaitu semakin meningkatnya permasalahan radikalisme agama yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok. Sebenarnya apa itu sikap radikal? Radikal adalah kata sifat yang berarti aksi mencolok untuk menyerukan paham ekstrem agar diikuti oleh banyak orang. Sementara radikalisme adalah ideologi yang memercayai perubahan menyeluruh hanya bisa dilakukan dengan cara radikal, bukan dengan cara evolusioner dan damai.

Hal itulah yang digunakan oleh oknum tertentu untuk memicu terjadinya suatu permasalahan yang serius yang seharusnya tidak perlu terjadi karena kita sudah ditakdirkan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan, karena Indonesia adalah negara plural. Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang harus saling menjaga dan melengkapi satu sama lain, tidak sepatutnya mudah terpecah belah hanya karena penyebaran isu radikalisme agama.

Karena latar belakang diatas kelompok kami menentukan topik tentang  Wawancara Para Pemuka Agama Mengenai Radikalisme Agama Dalam menjalankan tugas character building Agama  ini, kami memilih untuk berfokus untuk mengetahui dan menerapkan topik ini disetiap agama yang kami anut.

Karena kita adalah warga negara Indonesia yang mempunyai agama, suku dan budaya yang berbeda dan selalu ingat dengan nilai-nilai pancasila. kami berharap dengan melalukan wawancara ini kami lebih memahami dan bersikap bijak menghadapi permasalahan-permasalahan seperti ini di tengah lingkungan dan masyarakat kita. Baik yang berkaitan dengan permasalahan radikalisme agama dan permasalahan agama lainnya yang masih ada di Indonesia.

1.2   PERMASALAHAN
Gerakan radikalisme agama yang belakangan ini ramai terjadi, khususnya radikalisme dalam agama Islam. Radikalisme agama sendiri bagaikan musuh dalam selimut. Hal itu dikarenakan dapat membahayakan kehidupan berbangsa dan umat Islam sendiri. Dalam kehidupan berbangsa kekayaan budaya dan tradisi akan tereduksi dengan hadirnya formalisasi agama.
Hadirnya semangat menjadikan Islam sebagai agama sekaligus negara kembali merisaukan belakangan ini. Gerakan yang lebih dikenal dengan gerakan radikalisme agama mulai menemukan caranya dalam menyebarkan ajarannya. Gerakan ini dikatakan radikal karena lebih mengedepankan pemahaman literal terhadap teks dan cenderung mudah menggunakan kekerasan dalam memaksakan pemahaman mereka. Bila dahulu gerakan radikalisme agama dalam menyampaikan ajarannya hanya melalui jalan revolusioner, seperti bom bunuh diri, dan terbukti gagal maka sekarang turut menggunakan cara baru yaitu jalan evolusioner.
 Boleh jadi munculnya gagasan mengubah Islam kedalam negara disebabkan oleh semangat berlebihan tanpa dibarengi pengetahuan agama yang memadai. Berawal dari situ maka munculah klaim kebenaran tunggal untuk menghindari pemahaman lain yang berseberangan. Pandangan yang berbeda atau bersebrangan harus diberangus dan dianggap sesat. Selanjutnya agama dijadikan dalih terhadap pemahaman literal mereka sehingga tanpa mereka sadari apa yang mereka perjuangkan adalah ideologi mereka dan bukan islam itu sendiri.
 Karena itu alasan utama menolak radikalisme agama ialah untuk mengembalikan wajah Islam yang penuh rahmat sekaligus menyelamatkan NKRI dari keterpecah belahan. Seluruh masyarakat Indonesia perlu bersama mewujudkan islam yang lebih moderat dan akomodatif terhadap kekayaan budaya nusantara. Islam yang terbuka dan tidak meneriakkan kekerasan adalah kunci perdamaian di Indonesia sehingga gerakan radikalisme agama dengan pemaksaan tidak ada lagi.
1.3  TUJUAN DAN MANFAAT KEGIATAN
Kegiatan ini kami lakukan dengan tujuan untuk:
       1.      Untuk mengetahui faktor-faktor permasalahan radikalisme agama di Indonesia.
       2.      Untuk mengetahui bagaimana mengatasi permasalahan radikalisme agama di Indonesia.
       3.      Untuk menerapkan sikap rendah hati dan saling memaafkan atas permasalahan radikalisme                 agama di tengah masyarakat Indonesia.
     Manfaat dari kegiatan yang kami lakukan terutama sebagai mahasiswa Binus University adalah kami ikut berperan aktif dalam isu dan masalah yang sedang terjadi disekitar masyarakat seperti masalah radikalisme agama ini, manfaat lainnya adalah kami jadi lebih memahami apa sebenarnya radikalisme agama itu dan bagaimana radikalisme dapat menjadi ancama serius di Indonesia, kami juga jadi memiliki wawasan yang lebih lagi karena telah mendengar pendapat-pendapat dari setiap tokoh pemuka agama yang kami wawancara.



BAB 2
METODE KEGIATAN

TEMA KEGIATAN
Tema yang kami usung kali ini adalah “Radikalisme Agama”.


MACAM-MACAM KEGIATAN
            Wawancara dengan tokoh-tokoh agama.

NARASUMBER
Tokoh-tokoh agama.



WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
Masjid Roudhatul Jannah (Sabtu, 14 Oktober 2017 / 14.00 – selesai)
Gereja Bethel Indonesia Modernland (Jumat, 7 Desember 2017 / 14:00 – selesai)
Vihara Siddharta (Jumat, 7 Desember 2017 / 16:00 – selesai)



BENTUK DAN RENCANA KEGIATAN

Melihat kondisi yang terjadi tersebut, kami berencana untuk melakukan sebuah kegiatan wawancara kepada tokoh-tokoh agama, dengan tujuan agar kami dapat lebih memahami bagaimana permasalahan tersebut bisa sampai terjadi dan kamipun bisa menyikapi permasalahan tersebut dengan sebijak bijaknya sebagai seorang mahasiswa yang memiliki pengaruh besar di masyarakat dan sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga negara kesatuan republik Indonesia. Karena menurut pandangan kami sendiri jika permasalahan radikalisme agama terus dibiarkan dan tanpa adanya pandangan yang bijak untuk meyikapinya dengan kerendahan hati dan sikap saling memaafkan maka permasalahan ini bisa terus terulang kembali di negara kita, Oleh sebab itu kami berharap dengan melakukan wawancara kami bisa lebih bersikap bijak untuk menyikapinnya.

Dalam kegiatan project luar kelas ini, kami akan mengajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan tema yang kami pilih, yaitu Radikalisme Agama. Berikut beberapa pertanyaan yang akan kami tanyakan.
     1.      Apa pandangan bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
     2.      Menurut pandangan bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
     3.      Apakah radikalisme agama sesuai dengan ajaran agama?  
     4.      Dalam konteks Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap nilai-nilai                  Pancasila?
     5.      Bagaimana mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
     6.      Apa peran agama dalam mengatasi, mencegah atau mengurangi gejala radikalisme agama di                Indonesia?
     7.      Siapa-siapa saja yang harus bertanggung jawab terhadap usaha mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?

Dalam setiap tokoh agama yang kami temui, kami berikan pertanyaan yang sama, kami sangat berharap mendapatkan jawaban yang berbeda-beda dari setiap tokoh agama yang kami temui, kami mendapatkan jawaban yang berbeda-beda, agar kamipun juga dapat mengetahui pendapat atau jawaban yang bervariasi dari setiap tokoh agama yakni Islam, Kristen dan Buddha.
Karena dengan mengetahui pendapat dari tokoh agama kami bisa lebih memahami permasalahan agama tersebut dari sudut pandang setiap agama. Kelompok juga berharap dapat belajar lebih dalam mengenai kerendahan hati dan sikap saling memaafkan sebagai salah satu jalan keluar dan cara menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan unsur SARA. Menurut kelompok kami sebagai generasi muda sangat perlu untuk memperdalam dan menanamkan sikap toleransi, sikap rendah hati dan sikap saling memaafkan.

BAB 3
KONSEP


Nilai-nilai yang terkandung berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Agama adalah:
  1.    Nilai Ketuhanan seperti tercantum dalam sila pertama “Ketuhana Yang Maha Esa” mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Nilai ini menyatakan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius, bukan bangsa yang menganut kepercayaan Atheis. Nilai Ketuhanan juga memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan unutk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta berlaku toleransi terhadap orang-orang yang memeluk agama berbeda.
  2.    Nilai Kemanusiaan pada sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana semestinya. Dalam hal ini, kami sebagai masyarakat Indonesia tidak boleh berperilaku diskriminatif terhadap suatu agama. Melainkan kami sebagai generasi penerus bangsa harus memberikan contoh kepada masyarakat Indonesia lainnya bahwa dengan adanya keanekaragaman agama yang ada di Indonesia, kita harus saling toleransi dan menghargai antar umat beragama.
  3.    Nilai Persatuan pada sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia” mengandung arti persatuan antar umat beragama. Walaupun Indonesia memiliki banyak agama, namun seharusnya perbedaan itu mampu membuat kita menjadi satu. Jangan mudah terprovokasi tentang kejelekan suatu agama. Kunci dari kuatnya Indonesia adalah bersatunya rakyat Indonesia.
  4.    Nilai Keadilan pada sila lima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, terkandung nilai keadilan yang berarti keadilan dalam kehidupan sosial haruslah meliputi seluruh rakyat Indonesia, persamaan dalam berbagai hak yang dilandasi dengan hak dan kewajiban setiap orang, dan sikap saling menghormati orang lain agar dapat tercapainya keadilan. Sedangkan di Indonesia banyak yang berperilaku diskriminatif terhadap suatu agama.

Dikarenakan oleh masalah-masalah yang telah dijabarkan di atas, maka kami akan melakukan kegiatan sosial yaitu berkunjung ke beberapa tempat ibadah yang ada di sekitar kami, dengan harapan setelah mewawancarai para pemuka agama kami akan mendapatkan solusi dari masalah yang telah dijabarkan di atas, yaitu ketidakadilan atau tidak bersatunya rakyat di Indonesia. Kami harap dengan kunjungan kami ke beberapa tempat ibadah tersebut, kami akan mendapatkan informasi yang kemudian bisa kami berikan ke masyarakat luas untuk menuntaskan masalah yang ada di Indonesia.




BAB 4
PELAKSANAAN KEGIATAN

Pertama-tama, kami melakukan survey terlebih dahulu ke lokasi narasumber berada. Setelah berdiskusi dengan narasumber mengenai jadwal yang cocok untuk wawancara, kami pergi meninggalkan lokasi. Pada hari yang sudah ditentukan, kami datang kembali ke lokasi narasumber berada, lalu melakukan wawancara dengan tokoh agama.
Kelompok kami melakukan kunjungan ke berbagai tempat ibadah sesuai dengan tokoh agama yang akan kami wawancarai, seperti:

4.1  Narasumber                 : Ustad Lukman
Tokoh agama              : Islam
Lokasi                         : Masjid Roudhatul Jannah, Villa Melati Mas Blok M
Hari, Tanggal              : Sabtu, 14 Oktober 2017
Waktu                         : 13:00-                        14:00(Perjalanan) 14:00-16:00(wawancara)
Transkrip Wawancara :
·         Apa pandangan bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
Kalau menurut sosial radikal adalah sesuatu yang keras dan negative namun sebenarnya tidak, radikal itu sesuatu yang sangat diperlukan karena mengubah prinsip dasar, jadi kalau tidak ada prinsip yang dapat mengubah prinsip dasar yang salah akan sangat sulit. Namun pengertian ini bergeser lebih ke negative padahal bukan seperti itu. Dalam Islam sendiri memang ada yang bepaham Islam garis keras dan ada yang moderat, mereka yang berpaham garis keras adalah mereka yang sering kali dianggap sebagai kaum radikal mungkin mengarahnya pada bom bunuh diri.
·         Menurut pandangan bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
Sebetulnya Indonesia adalah negara yang mempunyai sopan santun yang tinggi, toleransi yang cukup kuat namun tiba-tiba ada semacam paham-paham yang dirasa mengancam keBhinekaan Indonesia, ya itu karena pengaruh dari luar. Jadi akibat pengaruh dari negara luar seperti kerisis dan perang yang dibawa ke Indonesia, sedangkan kondisinya berbeda Indonesia negara aman. Yang dipermasalahkan tetap atas nama agama walau kita tidak tau sebenernya itu berdasarkan apa, entah politik, ekonomi.
·         Apakah radikalisme agama sesuai dengan ajaran agama?
Tentu tidak sesuai
·         Dalam konteks Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila?
Ya sudah tentu, karena didalam Pancasila ada Kemanusiaan yang Beradab, bahwa manusia mempunyai hak yang sama untuk hidup, kebebasan dalam beragama dan untuk menjalankan agamanya masing-masing. Kalau itu diganggu dengan pemaksaan atas nama agama yang lain maka itu akan sangat mengancam sekali persatuang Indonesia.
·         Bagaimana mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Hal ini menyangkut pengajaran dimana orang itu berada, jika di lingkungan yang pegajarannya radikal maka radikal. Di Indonesia sendiri sudah banyak para ulama seperti MUI yang bisa dijadikan contoh. Jadi kembali lagi dari awal yaitu dari keluarga, orangtua, guru sehingga seseorang dapat dikontrol sejak dini dan tidak membawa pengaruh buruk/radikal di lingkungannya.
·         Apa peran agama dalam mengatasi, mencegah atau mengurangi gejala radikalisme agama di Indonesia?
Peran agama tidak terlepas dari para ulama, sebenarnya di Indonesia sendiri sangat sedikit Islam radikal jika dibandingkan dengan Islam moderat karena pemerintah juga ikut menangani, seperti sekarang di sekolah-sekolah banyak diajarkan cara bertoleransi antar umat beragama.
·         Siapa-siapa saja yang harus bertanggung jawab terhadap usaha mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Yang paling pertama dan utama ya orangtua, yang kedua jika menyangkut agama ya guru agama, kemudia lingkungan dia belajar.

4.2  Narasumber                 : Pendeta Dony Lubianto, M.Th
Tokoh agama              : Kristen
Lokasi                         : Gereja Bethel Indonesia Modernland
Jl. Honoris Raya, Kota Modern, Tangerang 15117, Indonesia
Hari, Tanggal              : Jumat, 7 Desember 2017
Waktu                         : 13:00-14:00(Perjalanan) 14:00-15:30
Transkrip Wawancara :
·         Apa pandangan bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
Radikal itu sebenarnya dari kata “Radiks” yaitu akar jadi sebenarnya radikal itu adalah akar atau dasar dan disetiap agama pasti ada dan diperlukan, biar bagaimanapun agama butuh yang namanya radikal, seperti saya seorang pendeta yang tidak mau umatnya mudah goyak terutama dalam hal pengajaran yang jika di Islam disebut akidah, akidah itu harus terjaga. Sama seperti yang Buddha, yang Kristen harus radikal dengan ajaran agamanya, tapi kembali lagi radikal ada yang negative dan yang positif tentu maksud saya radikal yang positif. Seperti orang Kristen harus berpegang teguh bahwa ajarannya yang paling benar, Buddha dan Islam juga harus begitu, tanpa memkasakan pendapatnya karena merasa ajarannyalah yang paling benar karena itu lah yang membuat kerukunan di Indonesia ini sering terganggu, makanya untuk radikal positif ini saya lebih memilih untuk tidak menggunkan “isme” karena jika sudah radikalisme lebih kearah negative.
·         Menurut pandangan bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
Karena ada sebagian orang atau oknum yang ingin show off dan ingin menunjukan bahwa ajaran agamanyalah yang paling benar dan yang lain salah, orang lain harus mempercai apa yang ia percayai. Biasanya ini terjadi karena rasa percaya diri dan rasa bahwa agamanya yag paling benar itu berlebihan atau justeru karena kurangnya pemahaman orang ini akan ajaran agamanya sehingga ia tidak mengerti.
·         Apakah radikalisme agama sesuai dengan ajaran agama?
Tentu saja karena radikalisme itu sudah ditentukan sebagai suatu bentuk ancaman. Kemarin itu ada pembahasan mengenai negara ini ketinggalan satu generasi kira-kira 25 tahun karena pada generasi 25 tahun belakangan ini pemaparan pancasila tidak secara lengkap tidak seperti dulu. Ditambah dengan bahaya radikalisme, tentu itu sebuah ancaman karena bagaimanapun kalau radikalismenya sudah negatif dari agama apapun itu tentu menjadi ancaman.
·         Dalam konteks Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila?
Tentu saja, karena radikalisme sudah dinyatakan sebagai bentuk ancaman apalagi untuk generasi sekarang ini yang sudah tidak mendapatkan pemaparan tentang nilai-nilai Pancasila di sekolahnya
·         Bagaimana mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Mencegah radikalisme itu menurut saya yang pertama itu rumah, karena pendidikan dari rumah itu membiasakan diri terhadap keterbukaan. Orang tua harus bisa mengajar bahwa kita harus yakin teguh terhdapa agama kita tetapi kita juga harus mengerti artinya menghormati dan menghargai sama tetangga dan yang lain, makanya zaman saya dulu masih usia remaja, saya tinggal di daerah pluralis yang terdapat banyak agama dan suku. Ketika tetangga ada yang lebaran, kita datang ucapkan selamat. Waktu natalan juga begitu, tahun baru imlek juga kita saling berkunjung. Nah itu harus ditanami dari siapa? Mesti ditanami dari orang tua, kalau dari rumah saja, dari kecil sudah dibilangin “jangan bergaul ya sama itu ya, nanti merusak agama kita” kalo seperti itu sudah repot. Jadi bagaimana pun tentu tugas orang tua dimulai dari rumah, bagaimana mengajarkan anak anak tetap berpegang teguh pada agama tapi juga harus memperhatikan nilai nilai tadi itu, pergaulan, nilai nilai social, saling menghormati, menghargai, tenggang rasa itu mesti di pupuk dan ditanamkan dan juga yang paling penting adalah bersahabat sebanyak mungkin orang dari berbagai latar belakang agama dan kebudayaan.
Kemudian yang kedua, peran dari tokoh agama. Nah kalo tokoh agama Cuma menekankan pentingnya ajaran agamanya tanpa dia mengajarkan rasa kasih sayang sesama makhluk Tuhan ya itu gampang di provokasi nya, artinya peran tokoh agama itu juga penting. Makanya tokoh agama itu dituntut untuk bagaimana jemaat makin dalam iman nya, makin tinggi kerohaniannya, tetapi juga tidak pudar rada kasih sayang nya itu. Artinya sebagai sesame maklhuk hidup ciptaan Tuhan harus salinf mengasihi, saling menghargai, saling menghormati itu harus terus dijaga dan dipelihara. Dan saya percaya sih sebetulnya kalo kita mendalami agama masing2, semuanya mengajarkan tentang kasih dari Kristen, Buddha, konghucu itu ada baiknya makanya sempet keluar kan peraturan dari menteri agama itu tentang berdaqwa itu, ya makanya ada aturan aturan dibahas khusus supaya jangan dari tempat ibadah timbul provokasi yang meningkatkan dan mempertebal rasa yang tadi itu, seperti kebencian.
Dan yang ketiga tentu peran pemerintah. Hal ini adalah tentu fkud. Jadi kaya saya pernah ikut binakder kerukunan. Jadi fkud ini dapat menjaga dan meningkatkan kerukunan diantara umat, jadi sering bertemu kata ketua fkud kita kan kan prof suparman itu, sering bertemu itu menjadi kunci. Kenapa? karena orang yang sering bertemu aja bisa membenci apalagi yang tidak pernah bertemu. Coba deh orang pacaran, orang sering ketemu aja masih ada berantemnya apalagi pacaran ga pernah ketemu pasti curigaan terus, yang sering ketemu aja pasti ada ributnya. Maka itu untuk menjaga kerukunan dan mencegah radikalisme tentu pemerintah harus memfasilitasi, mempertemukan mulai dari elitis tokoh tokoh agama, maupun ke akar rumput. Bikin acara kebeersamaan yang sifatnya social kemanusiaan. Apa yang dimiliki oleh umat Buddha, ayo kita kerjain sama sama untuk lingkungan, apa yng dimiliki umat muslim, kelebihan apa, ayo kita lakukan bersama sama. Nah itu lah dari hasil terakhir konsolidasi beberapa bulan lalu ya tahun 2017 ini di prakasai oleh MUI provinsi banten, itu yang akan kita lakukan kedepannya di banten, jadi sudah ada kesepakatan bersama para pimpinan majelis agama untuk saling ayo apa yang kamu punya, apa yang jadi kelebihan mu mari kita lakukan sama sama. Kalo ada misalnya kuat dibidang pengobatan, klinik gratis yaudah kits sama sama garap di daerah mana. Itu sudah ada konsolidasi ke situ utnuk pergerakan akan kedepannya.

4.3  Narasumber                 : Bhikkhu Kittipañño
Tokoh agama              : Buddha
Lokasi                         : Vihara Siddharta, Jl. Manunggal V No.22, RT.2/RW.3,
Parigi Baru, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15228
Hari, Tanggal              : Jumat, 7 Desember 2017
Waktu                         : 15:30-16:00(perjalanan) 16:00 – 18:00
Transkrip Wawancara :
·         Apa pandangan bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
Radikalisme agama di Indonesia adalah hal yang tidak patut terjadi, sebelum kita ke situ, radikalisme itu apa sih?
Suatu kelompok atau satu orang yang ingin mencapai satu tujuan dengan cara apapun, dengan cara negatif pun dia lakukan, terutama dengan cara penekanan, intimidasi, segala macam.
Sepatutnya di Indonesia tidak boleh terjadi, karena dasar negara kita sudah jelas memfasilitasi keberagaman, perberbedaan. Dari aceh sampai papua kulitnya beda-beda, matanya beda-beda, bahasanya aja beda, makanannya beda, apalagi agama. Kita sekarang ini ada 6 agama dan juga ada kepercayaan-kepercayaan lain, kepercayaan leluhur-leluhur mereka.
Kalau satu kelompok memaksakan untuk kita menjadi sama itu hal yang sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal. Contoh simpelnya adalah untuk makanan saja orang sukanya berbeda-beda, misalnya anda tidak suka makan sayur kalau dipaksa makan sayur enak tidak? Apalagi mengenai satu pola pikir, cara hidup seseorang dipaksa, itu adalah hal yang tidak mungkin dan tidak pantas dilakukan. Kita sendiri tidak mau dipaksa, orang lain juga tidak mau dipaksa, diseragamkan.
·         Menurut pandangan bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
Dampak radikalisme adalah pertama perpecahan, karena kita di Indonesia ini multikultural, multiagama, multibudaya, multikepercayaan semuanya itu berbeda-beda. Kedua adalah tekanan mental (ketakukan, terror), seperti ada pemaksaan, jadi ada sebagian atau sekelompok orang itu merasa tertekan dan tidak nyaman, dari segi keamanan pun menjadi selalu was-was karena kemana-mana kita pergi kalau memiliki perbedaan pendapatan dengan suatu kelompok akan menjadi ketakutan, ketakutan untuk dipukuli atau dipaksa untuk harus mempercayai paham tertentu. Padahal di Indonesia dasar negaranya pun Pancasila, dimana memfasilitasi untuk setiap warganya memeluk agama yang berbeda, maka setiap orang berhak memeluk agamanya masing-masing.
·         Apakah radikalisme agama sesuai dengan ajaran agama?
Di Buddhisme tidak ada satu ajaran pun didalam kitab suci yang menganjurkan untuk melakukan kekerasan, membenci orang, menjadi serakah, untuk ingin menguasai kekuasaan. Semua agama pun seperti tidak ada yang mengajarkan kekerasan.
·         Dalam konteks Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila?
Radikalisme merusak, karena kita negara multiagama, multikultural jadi kalau ada radikalisme kan bersifat mengintimidasi jadi harus sama, namun jika sama itu akan menjadi negara komunis, sedangkan Indonesia adalah Pancasila, dimana Ketuhanan yang Maha Esa, bukan Tuhan. Sebenarnya ancaman terhadap nilai Pancasila ini berasal dari perpecahan tergantung bagaimana pemerintah menyikapinya dan mengambil keputusan untuk mengatasinya, karena sudah jelas melanggar undang-undang.
·         Bagaimana mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Semua diawali dari rumah, dari diri kita sendiri, memahami diri kita sendiri, setelah itu tularkan pada orang lain, teman. Sebagai mahasiswa harus memiliki peran yang bermanfaat untuk masyarakat. Kita boleh yakin boleh percaya pada paham kita tapi jangan mengganggap yang lain tidak benar, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Keserakahan, kebodohan dan kebencian yang mampu membuat kita melakukan kesalahan dan menyebabkan radikalisme.
·         Apa peran agama dalam mengatasi, mencegah atau mengurangi gejala radikalisme agama di Indonesia?
Sebagai Buddhisme kita perlu menanamkan : “Jangan berbuat jahat”, “Sucikan pikiran dan hati”, dan “Kembangkanlah perbuatan baik” dalam pikiran kita. Kemudian 4 Ajaran Brahmavihara (4 Kediaman batin yang luhur) adalah :
1.       Metta (cinta kasih), mengharapkan makhluk lain bahagia seperti pada manusia, binatang, sekalipun makhluk yang tidak memiliki bentuk. Kita harus memiliki cinta kasih, tidak ada niat untuk melakukan kejahatan, menyakiti dan membuat yang lain menderita. Dengan menanamkan didalam batin dan mengaplikasikan “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia”
2.       Karuna (welas asih), tidak menginginkan orang lain menderita, artinya jika ada orang menderita kita dengan welas asih ini membantu bagaimana mereka keluar dari penderitaan. Contohnya yayasan Tzu Chi, atau memberi makan pada kucing dsb.
3.       Uppekha (keseimbangan batin), ketika kita ada masalah, batin kita biasa saja, jangan merasa sangat menderita, ketika kita bahagia jangan terlalu bahagia tapi biasa saja,. Uppekha merupakan ajaran yang paling sulit untuk dipraktekkan.
4.       Muddita (empati), jika orang lain bahagia mendapatkan sesuatu kita juga merasakan ikut senang walaupun kita tidak mendapatkannya. Bukannya ketika orang mendapat hadiah kita menjadi iri hati.
Ditambah pula Hiri dan Ottapa. Hiri (malu pada diri sendiri) dan Ottapa (takut pada akibat perbuatan jahat). Buddhis juga mempercayai hokum Kamma, dimana perbuatan baik dan buruk akan membuatkan hasil, benih yang ditabur akan dituai, dimana melakukan perbuatan yang buruk akan menghasilkan petaka dan jika melakukan perbuatan baik akan menghasilkan kebahagiaan.
·         Siapa-siapa saja yang harus bertanggung jawab terhadap usaha mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Semua orang memiliki peran penting dalam mengurangi radikalisme, maka dari itu anak dari generasi penerus bangsa harus memiliki bibit mengenai pemahaman yang baik.

4.4. Pengerjaan proposal : 2 jam 30 menit
    4.5. Pengerjaan blog : 1 jam






BAB 5
PENUTUP

1.1  KESIMPULAN

Setelah melakukan wawancara dengan 3 tokoh agama yang kami pilih (Ustad, Pendeta dan Bikkhu), kami menarik kesimpulan bahwa konflik radikalisme yang terjadi dengan mengatasnamakan agama tertentu merupakan perbuatan oknum-oknum menyimpang yang tidak ada kaitannya dengan agama dan ingin mengambil keuntangan tersendiri dari konflik tersebut. Agama sendiri selalu mengajarkan kita kebaikan, kerukunan, dan cinta kasih terhadap sesama, oleh karena itulah kita sesama makhluk hidup harus saling menjaga dan mengasihi satu sama lain.

Agama juga memiliki peranan penting dalam menciptakan perdamaian. Dengan menjaga ketentraman dan menerapkan ajaran-ajaran yang di ajarkan oleh agama maka perdamaian dapat tercipta. Setiap agama pasti mengajarkan hal sama yaitu toleransi, kasih, menghargai sesama dan menerima perbedaan, yang berbeda hanyalah dari cara beribadahnya

     Dialog antar umat beragama juga dapat meningkatkan keharmonisan antar umat beragama dan dapat saling mengerti dan menghargai batasan-batasan yang diterapkan dalam kehidupan beragama satu sama lainnya. Dalam konteks ini, berdialog merupakan salah satu cara kita sebagai umat beragama saling bertukar pikiran dan menghargai kepercayaan masing-masing. Dengan begitu kehidupan rukun beragamapun dapat di jalan dengan adanya keharmonisan dan kerukunan satu sama lainnya dan perdamaianpun dapat terwujud.


1.2  SARAN

Saran dari kelompok kami ialah wawasan agama haruslah di eratkan oleh kepercayaan yang disertai oleh dukungan Tokoh Agama, sebab sangatlah mudah seseorang dijerumusi atau dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang dapat mengakibatkan sebuah penyimpangan agama, baik itu ketidak toleran kepada agama lain atau bahkan menciptakan sebuah konflik yang didasarkan oleh agama.

Selain dari Tokoh agama, Kita sebagai masyarakat pun bisa memberikan wawasan atau pengetahuan umum mengenai kebaikan agama secara universal kepada orang-orang disekitar kita, seperti menghargai kepercayaan orang lain, bertoleransi terhadap siapapun, membantu orang lain dalam kesusahan tanpa memandang agamanya, dan hidup rukun bersama agama-agama yang dianut oleh orang disekitar kita.



1.3  REFLEKSI

·         Muhammad Auliya Rizqy (2001604353)
             Tugas luar kelas CB:Agama ini memberikan saya banyak hal, dan juga mendapatkan pengalaman baru. Mulai dari bertemu dengan tokoh agama yang sebelumnya belum pernah saya temui sampai mendengar tentang sudut pandang mereka dalam menyikapi banyak hal. Pendapat mereka tentang Radikalisme Agama dan bagaimana cara menyikapinya kurang lebih sama. Dari hal tersebut, saya mengetahui bahwa setiap agama mengajarkan toleransi dan mengajarkan kebaikan.

·         Alessandro Kotalawala (2001557470)
Dari interview yang kami laksanakan pada kegiatan wawancara tokoh agama, banyak hal yang dapat di ambil dari kegiatan itu, bagaimana pandangan mereka tentang kehidupan yang mulai amburadul, sampai dengan pengenalan agama yang jadi cerminan perilaku kita. Dan dari situlah saya di ajarkan bagaimana jadi pribadi yang lebih baik lagi dan tetap semangat menggapai cita-cita yang sudah diimpikan.
·         Brandon Matthew Tristany (2001579963)
      Melalui tugas CB agama dalam kegiatan wawancara pemuka agama ini, saya
mendapatkan pengalaman yang bermakna dan sangat bermanfaat yang bisa mengubah
mindset saya bahwa perbedaan itu ada bukan untuk sebagai pemecah, melainkan
sebagai pemersatu. Ibarat memasak makanan, dibutuhkan banyak perbedaan untuk
mewujudkan sebuah mahakarya. Contohnya garam, lada, dan bahan-bahan lainnya
agar menjadikan makanan itu menjadi satu kesatuan.

·         Nur Rahmat Hidayat (2001578784)
      Dari kegiatan ini saya mendapatkan banyak pengalaman baru serta ilmu baru yg
didapat dari pendapat para pemuka agama, dan dari situ saya bisa menarik kesimpulan
bahwa tiap agama mengajarkan kebaikan dan mengedepankan toleransi antar agama,
tidak ada pemaksaan untuk memeluk dan mempercayai suatu agama.

·         Thariq Hudha Syahdilla Alintar (2001552835)
      Dari kegiatan CB ini saya mendapatkan pengalaman yang menurut saya cukup
baik dalam mengenal keragaman beragama diindonesia yang dimana membuat saya
sadar bahwa kita ini makhluk sosial yang saling membutuhkan tidak secara seagama
melainkan lintas agama dan saya berharap toleransi antar agama tetap berlangsung
selamanya tanpa adanya perpecahan yang membedakan kita sebagai makhluk sosial.

·         Veren Helin (2001561562)
Dari projek luar kelas CB Agama ini saya memahami bahwa agama itu luas, tidak hanya sebatas beriman kepada Tuhan tetapi juga berbuat baik kepada sesama, bertoleransi dan harus saling menghargai. Kita boleh memegang teguh ajaran agama kita namun bukan berarti agama yang lain itu salah, karena sebenarnya semua agama mengajarkan kebaikan. Saya juga mendapat banyak pelajaran dan solusi-solusi hidup yang mungkin berguna untuk saya kedepannya. Saya juga menyadari bahwa latar belakang suku, ras dan agama bukanlah suatu hal yang buruk. Dengan adanya perbedaan kita dapat membuka wawasan baru tentang kehidupan ini dari pandangan-pandangan orang lain.

·         Yonathan (2001562792)
Dalam kegiatan wawancara ini saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Saya bisa bertemu dengan tokoh-tokoh agama lain seperti biksu dan ustad serta mendengar pendapat mereka. Dalam kegiatan ini saya juga dapat berinteraksi dengan tokoh-tokoh dari berbagai agama. Saya dapat mengetahui bahwa pendapat setiap agama kurang lebih sama dan selalu mengarah pada kebaikan bersama.

·         Riyos Osvaldo (1801374822)




REFERENSI




LAMPIRAN

Wawancara 1
   1.      Tempat wawancara     : Masjid Roudhatul Jannah, Villa Melati Mas Blok M
   2.      Identitas informan       : Ustad Lukman
   3.      Peserta Wawancara     :           1.  Muhammad Auliya Rizqy
2.       Alessandro Kotalawala
3.       Brandon Matthew Tristany
4.       Nur Rahmat Hidayat
5.       Thariq Hudha Syahdilla Alintar
6.       Veren Helin
7.       Yonathan
8.       Riyos Osvaldo (TIDAK HADIR)
   4.      Waktu dan tanggal wawancara           : 13:00-14:00(Perjalanan) 14:00-16:00 / Sabtu, 14 Oktober 2017 
   5.    Foto kegiatan wawancara


Wawancara 2
   1.      Tempat wawancara     : Gereja Bethel Indonesia Modernland Jl. Honoris Raya,
Kota Modern, Tangerang 15117, Indonesia
   2.      Identitas informan       : Pendeta Dony Lubianto, M.Th
   3.      Peserta Wawancara     :           1.  Muhammad Auliya Rizqy
2.       Alessandro Kotalawala (TIDAK HADIR)
3.       Brandon Matthew Tristany (TIDAK HADIR)
4.       Nur Rahmat Hidayat
5.       Thariq Hudha Syahdilla Alintar
6.       Veren Helin
7.       Yonathan
8.       Riyos Osvaldo (TIDAK HADIR)
   4.      Waktu dan tanggal wawancara           : 13:00-14:00(perjalanan) 14:00 – 15:30 / Jumat, 7 Desember 2017
   5.    Foto kegiatan wawancara


Wawancara 3
   1.      Tempat wawancara     : Vihara Siddharta, Jl. Manunggal V No.22, RT.2/RW.3,Parigi Baru, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15228
   2.      Identitas informan       : Bhikkhu Kittipañño
   3.      Peserta Wawancara     :           1.  Muhammad Auliya Rizqy
2.       Alessandro Kotalawala (TIDAK HADIR)
3.       Brandon Matthew Tristany
4.       Nur Rahmat Hidayat
5.       Thariq Hudha Syahdilla Alintar
6.       Veren Helin
7.       Yonathan
8.       Riyos Osvaldo (TIDAK HADIR)
   4.      Waktu dan tanggal wawancara           : 15:30-16:00(perjalanan) 16:00 – 18:00 / Jumat, 7 Desember 2017
   5.      Foto kegiatan wawancara

    



Tidak ada komentar:

Posting Komentar