CBDC – TFI
Character Building Agama
WAWANCARA TOKOH AGAMA
Wawancara
Para Pemuka Agama Mengenai Radikalisme Agama
Identitas
Kelompok
Nim
|
Nama
|
Jabatan (ketua, anggota)
|
2001604353
|
Muhammad Auliya Rizqy
|
Ketua
|
2001557470
|
Alessandro
Kotalawala
|
Anggota
|
2001579963
|
Brandon Matthew Tristany
|
Anggota
|
2001578784
|
Nur Rahmat Hidayat
|
Anggota
|
2001552835
|
Thariq Hudha Syahdilla Alintar
|
Anggota
|
2001561562
|
Veren Helin
|
Anggota
|
2001562792
|
Yonathan
|
Anggota
|
1801374822
|
Riyos Osvaldo
|
Anggota
|
Kelas
|
LN01
|
BINUS UNIVERSITY
2017
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL / LAPORAN AKHIR
Project Luar Kelas Character Building Agama
1.
|
Judul Project
|
:
|
Wawancara Para Pemuka Agama
Mengenai Radikalisme Agama
|
2.
|
Lokasi Project
|
:
|
1.
Masjid Roudhatul Jannah (Islam)
2.
Gereja Bethel Indonesia Modernland
(Kristen)
3. Vihara
Siddharta (Buddha)
|
3.
|
Kelompok target kegiatan
|
:
|
Para Tokoh Agama
|
4.
|
Nama Anggota Kelompok
|
||
1.
|
:
|
Muhammad Auliya Rizqi
|
|
2.
|
:
|
Alessandro Kotalawala
|
|
3
|
:
|
Brandon Matthew Tristany
|
|
4.
5.
6.
7.
8.
|
:
:
:
:
:
|
Nur Rahmat Hidayat
Thariq Hudha Syahdilla Alintar
Veren Helin
Yonathan
Riyos Osvaldo
|
|
5.
|
Mata Kuliah
|
:
|
Character Building Agama
|
6.
|
Kelas
|
:
|
LN01
|
7.
|
Dosen
|
:
|
Bpk.Arcadius
Benawa
|
Tangerang, 18 Oktober 2017
Mengetahui
(Arcadius Benawa)
Dosen CB Agama
|
Ketua Kelompok
(Muhammad Auliya Rizqi)
|
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Character Building
Agama adalah salah satu mata kuliah yang bertujuan unuk membentuk
karakter dan softskill mahasiswa. Didalam mata kuliah ini
terdapat tugas lapangan yang mengimplementasikan teori di kelas kedalam
kehidupan yang nyata/konkret. Tugas lapangan ini bertujuan untuk membantu
permasalahan sosial yang sering terjadi di Indonesia.
Salah satu permasalahan sosial
yang ada di Indonesia yaitu semakin meningkatnya permasalahan radikalisme agama
yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok. Sebenarnya apa itu sikap
radikal? Radikal adalah kata sifat yang berarti aksi mencolok untuk menyerukan
paham ekstrem agar diikuti oleh banyak orang. Sementara radikalisme adalah
ideologi yang memercayai perubahan menyeluruh hanya bisa dilakukan dengan cara
radikal, bukan dengan cara evolusioner dan damai.
Hal itulah yang digunakan oleh
oknum tertentu untuk memicu terjadinya suatu permasalahan yang serius yang
seharusnya tidak perlu terjadi karena kita sudah ditakdirkan hidup berdampingan
dengan berbagai perbedaan, karena Indonesia adalah negara plural. Negara
Indonesia adalah negara kesatuan yang harus saling menjaga dan melengkapi satu
sama lain, tidak sepatutnya mudah terpecah belah hanya karena penyebaran isu
radikalisme agama.
Karena latar belakang diatas kelompok
kami menentukan topik tentang ” Wawancara Para Pemuka Agama Mengenai Radikalisme Agama” Dalam
menjalankan tugas character building Agama ini, kami memilih untuk berfokus
untuk mengetahui dan menerapkan topik ini disetiap agama yang kami anut.
Karena kita adalah warga negara
Indonesia yang mempunyai agama, suku dan budaya yang berbeda dan selalu ingat
dengan nilai-nilai pancasila. kami berharap dengan melalukan wawancara ini kami
lebih memahami dan bersikap bijak menghadapi permasalahan-permasalahan seperti
ini di tengah lingkungan dan masyarakat kita. Baik yang berkaitan dengan
permasalahan radikalisme agama dan permasalahan agama lainnya yang masih ada di
Indonesia.
1.2 PERMASALAHAN
Gerakan
radikalisme agama yang belakangan ini ramai terjadi, khususnya radikalisme
dalam agama Islam. Radikalisme agama sendiri bagaikan musuh dalam selimut. Hal
itu dikarenakan dapat membahayakan kehidupan berbangsa dan umat Islam sendiri.
Dalam kehidupan berbangsa kekayaan budaya dan tradisi akan tereduksi dengan
hadirnya formalisasi agama.
Hadirnya
semangat menjadikan Islam sebagai agama sekaligus negara kembali merisaukan
belakangan ini. Gerakan yang lebih dikenal dengan gerakan radikalisme agama
mulai menemukan caranya dalam menyebarkan ajarannya. Gerakan ini dikatakan
radikal karena lebih mengedepankan pemahaman literal terhadap teks dan
cenderung mudah menggunakan kekerasan dalam memaksakan pemahaman mereka. Bila
dahulu gerakan radikalisme agama dalam menyampaikan ajarannya hanya melalui
jalan revolusioner, seperti bom bunuh diri, dan terbukti gagal maka sekarang
turut menggunakan cara baru yaitu jalan evolusioner.
Boleh jadi
munculnya gagasan mengubah Islam kedalam negara disebabkan oleh semangat
berlebihan tanpa dibarengi pengetahuan agama yang memadai. Berawal dari situ
maka munculah klaim kebenaran tunggal untuk menghindari pemahaman lain yang
berseberangan. Pandangan yang berbeda atau bersebrangan harus diberangus dan dianggap
sesat. Selanjutnya agama dijadikan dalih terhadap pemahaman literal mereka
sehingga tanpa mereka sadari apa yang mereka perjuangkan adalah ideologi mereka
dan bukan islam itu sendiri.
Karena itu alasan utama menolak
radikalisme agama ialah untuk mengembalikan wajah Islam yang penuh rahmat
sekaligus menyelamatkan NKRI dari keterpecah belahan. Seluruh masyarakat
Indonesia perlu bersama mewujudkan islam yang lebih moderat dan akomodatif
terhadap kekayaan budaya nusantara. Islam yang terbuka dan tidak meneriakkan
kekerasan adalah kunci perdamaian di Indonesia sehingga gerakan radikalisme
agama dengan pemaksaan tidak ada lagi.
1.3 TUJUAN
DAN MANFAAT KEGIATAN
Kegiatan ini kami lakukan dengan tujuan untuk:
1.
Untuk
mengetahui faktor-faktor permasalahan radikalisme agama di Indonesia.
2.
Untuk
mengetahui bagaimana mengatasi permasalahan radikalisme agama di Indonesia.
3.
Untuk
menerapkan sikap rendah hati dan saling memaafkan atas permasalahan radikalisme agama di tengah masyarakat Indonesia.
Manfaat
dari kegiatan yang kami lakukan terutama sebagai mahasiswa Binus University
adalah kami ikut berperan aktif dalam isu dan masalah yang sedang terjadi
disekitar masyarakat seperti masalah radikalisme agama ini, manfaat lainnya
adalah kami jadi lebih memahami apa sebenarnya radikalisme agama itu dan
bagaimana radikalisme dapat menjadi ancama serius di Indonesia, kami juga jadi
memiliki wawasan yang lebih lagi karena telah mendengar pendapat-pendapat dari
setiap tokoh pemuka agama yang kami wawancara.
BAB 2
METODE KEGIATAN
TEMA KEGIATAN
Tema yang kami usung kali ini adalah “Radikalisme Agama”.
MACAM-MACAM KEGIATAN
Wawancara dengan tokoh-tokoh agama.
NARASUMBER
Tokoh-tokoh agama.
WAKTU
DAN TEMPAT KEGIATAN
Masjid Roudhatul Jannah (Sabtu, 14
Oktober 2017 / 14.00 – selesai)
Gereja Bethel Indonesia Modernland (Jumat,
7 Desember 2017 / 14:00 – selesai)
Vihara Siddharta (Jumat, 7 Desember
2017 / 16:00 – selesai)
BENTUK
DAN RENCANA KEGIATAN
Melihat kondisi yang terjadi
tersebut, kami berencana untuk melakukan sebuah kegiatan wawancara kepada
tokoh-tokoh agama, dengan tujuan agar kami dapat lebih memahami bagaimana
permasalahan tersebut bisa sampai terjadi dan kamipun bisa menyikapi permasalahan
tersebut dengan sebijak bijaknya sebagai seorang mahasiswa yang memiliki
pengaruh besar di masyarakat dan sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki
tanggung jawab besar untuk menjaga negara kesatuan republik Indonesia. Karena
menurut pandangan kami sendiri jika permasalahan radikalisme agama terus
dibiarkan dan tanpa adanya pandangan yang bijak untuk meyikapinya dengan
kerendahan hati dan sikap saling memaafkan maka permasalahan ini bisa terus
terulang kembali di negara kita, Oleh sebab itu kami berharap dengan melakukan
wawancara kami bisa lebih bersikap bijak untuk menyikapinnya.
Dalam
kegiatan project luar kelas ini, kami akan mengajukan beberapa pertanyaan yang
berhubungan dengan tema yang kami pilih, yaitu Radikalisme Agama. Berikut
beberapa pertanyaan yang akan kami tanyakan.
1.
Apa
pandangan bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
2.
Menurut
pandangan bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
3.
Apakah
radikalisme agama sesuai dengan ajaran agama?
4.
Dalam
konteks Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap
nilai-nilai Pancasila?
5.
Bagaimana
mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
6.
Apa
peran agama dalam mengatasi, mencegah atau mengurangi gejala radikalisme agama
di Indonesia?
7.
Siapa-siapa
saja yang harus bertanggung jawab terhadap usaha mengatasi, mencegah atau
mengurangi radikalisme agama?
Dalam
setiap tokoh agama yang kami temui, kami berikan pertanyaan yang sama, kami
sangat berharap mendapatkan jawaban yang berbeda-beda dari setiap tokoh agama
yang kami temui, kami mendapatkan jawaban yang berbeda-beda, agar kamipun juga
dapat mengetahui pendapat atau jawaban yang bervariasi dari setiap tokoh agama
yakni Islam, Kristen dan Buddha.
Karena dengan
mengetahui pendapat dari tokoh agama kami bisa lebih memahami
permasalahan agama tersebut dari sudut pandang setiap agama. Kelompok juga
berharap dapat belajar lebih dalam mengenai kerendahan hati dan sikap saling
memaafkan sebagai salah satu jalan keluar dan cara menyelesaikan permasalahan
yang berkaitan dengan unsur SARA. Menurut kelompok kami sebagai generasi muda
sangat perlu untuk memperdalam dan menanamkan sikap toleransi, sikap rendah
hati dan sikap saling memaafkan.
BAB 3
KONSEP
Nilai-nilai
yang terkandung berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Agama adalah:
1.
Nilai
Ketuhanan seperti tercantum dalam sila pertama “Ketuhana Yang Maha Esa”
mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan
sebagai pencipta alam semesta. Nilai ini menyatakan bangsa Indonesia merupakan
bangsa yang religius, bukan bangsa yang menganut kepercayaan Atheis. Nilai
Ketuhanan juga memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan unutk memeluk
agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta berlaku
toleransi terhadap orang-orang yang memeluk agama berbeda.
2.
Nilai
Kemanusiaan pada sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”
mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral
dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan
sesuatu hal sebagaimana semestinya. Dalam hal ini, kami sebagai masyarakat
Indonesia tidak boleh berperilaku diskriminatif terhadap suatu agama. Melainkan
kami sebagai generasi penerus bangsa harus memberikan contoh kepada masyarakat
Indonesia lainnya bahwa dengan adanya keanekaragaman agama yang ada di
Indonesia, kita harus saling toleransi dan menghargai antar umat beragama.
3.
Nilai
Persatuan pada sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia” mengandung arti
persatuan antar umat beragama. Walaupun Indonesia memiliki banyak agama, namun
seharusnya perbedaan itu mampu membuat kita menjadi satu. Jangan mudah
terprovokasi tentang kejelekan suatu agama. Kunci dari kuatnya Indonesia adalah
bersatunya rakyat Indonesia.
4.
Nilai
Keadilan pada sila lima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”, terkandung nilai keadilan yang
berarti keadilan dalam kehidupan sosial haruslah meliputi seluruh rakyat
Indonesia, persamaan dalam berbagai hak yang dilandasi dengan hak dan kewajiban
setiap orang, dan sikap saling menghormati orang lain agar dapat tercapainya
keadilan. Sedangkan di Indonesia banyak yang berperilaku diskriminatif terhadap
suatu agama.
Dikarenakan oleh masalah-masalah yang telah dijabarkan di atas, maka
kami akan melakukan kegiatan sosial yaitu berkunjung ke beberapa tempat ibadah
yang ada di sekitar kami, dengan harapan setelah mewawancarai para pemuka agama
kami akan mendapatkan solusi dari masalah yang telah dijabarkan di atas, yaitu
ketidakadilan atau tidak bersatunya rakyat di Indonesia. Kami harap dengan
kunjungan kami ke beberapa tempat ibadah tersebut, kami akan mendapatkan
informasi yang kemudian bisa kami berikan ke masyarakat luas untuk menuntaskan
masalah yang ada di Indonesia.
BAB 4
PELAKSANAAN KEGIATAN
Pertama-tama, kami melakukan survey terlebih
dahulu ke lokasi narasumber berada. Setelah berdiskusi dengan narasumber
mengenai jadwal yang cocok untuk wawancara, kami pergi meninggalkan lokasi.
Pada hari yang sudah ditentukan, kami datang kembali ke lokasi narasumber
berada, lalu melakukan wawancara dengan tokoh agama.
Kelompok kami melakukan kunjungan ke berbagai
tempat ibadah sesuai dengan tokoh agama yang akan kami wawancarai, seperti:
4.1
Narasumber : Ustad Lukman
Tokoh
agama : Islam
Lokasi : Masjid Roudhatul
Jannah, Villa Melati Mas Blok M
Hari,
Tanggal : Sabtu, 14 Oktober
2017
Waktu : 13:00- 14:00(Perjalanan) 14:00-16:00(wawancara)
Transkrip Wawancara :
·
Apa pandangan
bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
Kalau menurut sosial radikal adalah
sesuatu yang keras dan negative namun sebenarnya tidak, radikal itu sesuatu
yang sangat diperlukan karena mengubah prinsip dasar, jadi kalau tidak ada
prinsip yang dapat mengubah prinsip dasar yang salah akan sangat sulit. Namun
pengertian ini bergeser lebih ke negative padahal bukan seperti itu. Dalam
Islam sendiri memang ada yang bepaham Islam garis keras dan ada yang moderat,
mereka yang berpaham garis keras adalah mereka yang sering kali dianggap
sebagai kaum radikal mungkin mengarahnya pada bom bunuh diri.
·
Menurut pandangan
bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
Sebetulnya Indonesia adalah negara
yang mempunyai sopan santun yang tinggi, toleransi yang cukup kuat namun
tiba-tiba ada semacam paham-paham yang dirasa mengancam keBhinekaan Indonesia,
ya itu karena pengaruh dari luar. Jadi akibat pengaruh dari negara luar seperti
kerisis dan perang yang dibawa ke Indonesia, sedangkan kondisinya berbeda
Indonesia negara aman. Yang dipermasalahkan tetap atas nama agama walau kita
tidak tau sebenernya itu berdasarkan apa, entah politik, ekonomi.
·
Apakah radikalisme
agama sesuai dengan ajaran agama?
Tentu tidak sesuai
·
Dalam konteks
Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap nilai-nilai
Pancasila?
Ya sudah tentu, karena didalam
Pancasila ada Kemanusiaan yang Beradab, bahwa manusia mempunyai hak yang sama
untuk hidup, kebebasan dalam beragama dan untuk menjalankan agamanya
masing-masing. Kalau itu diganggu dengan pemaksaan atas nama agama yang lain
maka itu akan sangat mengancam sekali persatuang Indonesia.
·
Bagaimana mengatasi,
mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Hal ini menyangkut pengajaran
dimana orang itu berada, jika di lingkungan yang pegajarannya radikal maka
radikal. Di Indonesia sendiri sudah banyak para ulama seperti MUI yang bisa
dijadikan contoh. Jadi kembali lagi dari awal yaitu dari keluarga, orangtua,
guru sehingga seseorang dapat dikontrol sejak dini dan tidak membawa pengaruh
buruk/radikal di lingkungannya.
·
Apa peran agama
dalam mengatasi, mencegah atau mengurangi gejala radikalisme agama di Indonesia?
Peran agama tidak terlepas dari
para ulama, sebenarnya di Indonesia sendiri sangat sedikit Islam radikal jika
dibandingkan dengan Islam moderat karena pemerintah juga ikut menangani,
seperti sekarang di sekolah-sekolah banyak diajarkan cara bertoleransi antar
umat beragama.
·
Siapa-siapa saja
yang harus bertanggung jawab terhadap usaha mengatasi, mencegah atau mengurangi
radikalisme agama?
Yang
paling pertama dan utama ya orangtua, yang kedua jika menyangkut agama ya guru
agama, kemudia lingkungan dia belajar.
4.2
Narasumber : Pendeta Dony Lubianto, M.Th
Tokoh agama : Kristen
Lokasi : Gereja Bethel Indonesia Modernland
Jl. Honoris Raya, Kota Modern, Tangerang 15117, Indonesia
Hari, Tanggal : Jumat, 7 Desember 2017
Waktu : 13:00-14:00(Perjalanan) 14:00-15:30
Transkrip Wawancara :
·
Apa pandangan
bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
Radikal
itu sebenarnya dari kata “Radiks” yaitu akar jadi sebenarnya radikal itu adalah
akar atau dasar dan disetiap agama pasti ada dan diperlukan, biar bagaimanapun
agama butuh yang namanya radikal, seperti saya seorang pendeta yang tidak mau
umatnya mudah goyak terutama dalam hal pengajaran yang jika di Islam disebut
akidah, akidah itu harus terjaga. Sama seperti yang Buddha, yang Kristen harus
radikal dengan ajaran agamanya, tapi kembali lagi radikal ada yang negative dan
yang positif tentu maksud saya radikal yang positif. Seperti orang Kristen
harus berpegang teguh bahwa ajarannya yang paling benar, Buddha dan Islam juga
harus begitu, tanpa memkasakan pendapatnya karena merasa ajarannyalah yang
paling benar karena itu lah yang membuat kerukunan di Indonesia ini sering
terganggu, makanya untuk radikal positif ini saya lebih memilih untuk tidak
menggunkan “isme” karena jika sudah radikalisme lebih kearah negative.
·
Menurut pandangan
bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
Karena
ada sebagian orang atau oknum yang ingin show off dan ingin menunjukan bahwa
ajaran agamanyalah yang paling benar dan yang lain salah, orang lain harus
mempercai apa yang ia percayai. Biasanya ini terjadi karena rasa percaya diri
dan rasa bahwa agamanya yag paling benar itu berlebihan atau justeru karena
kurangnya pemahaman orang ini akan ajaran agamanya sehingga ia tidak mengerti.
·
Apakah radikalisme
agama sesuai dengan ajaran agama?
Tentu saja karena
radikalisme itu sudah ditentukan sebagai suatu bentuk ancaman. Kemarin itu ada
pembahasan mengenai negara ini ketinggalan satu generasi kira-kira 25 tahun
karena pada generasi 25 tahun belakangan ini pemaparan pancasila tidak secara
lengkap tidak seperti dulu. Ditambah dengan bahaya radikalisme, tentu itu
sebuah ancaman karena bagaimanapun kalau radikalismenya sudah negatif dari
agama apapun itu tentu menjadi ancaman.
·
Dalam konteks
Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap nilai-nilai
Pancasila?
Tentu
saja, karena radikalisme sudah dinyatakan sebagai bentuk ancaman apalagi untuk
generasi sekarang ini yang sudah tidak mendapatkan pemaparan tentang
nilai-nilai Pancasila di sekolahnya
·
Bagaimana
mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Mencegah radikalisme itu
menurut saya yang pertama itu rumah, karena pendidikan dari rumah itu
membiasakan diri terhadap keterbukaan. Orang tua harus bisa mengajar bahwa kita
harus yakin teguh terhdapa agama kita tetapi kita juga harus mengerti artinya
menghormati dan menghargai sama tetangga dan yang lain, makanya zaman saya dulu
masih usia remaja, saya tinggal di daerah pluralis yang terdapat banyak agama
dan suku. Ketika tetangga ada yang lebaran, kita datang ucapkan selamat. Waktu
natalan juga begitu, tahun baru imlek juga kita saling berkunjung. Nah itu
harus ditanami dari siapa? Mesti ditanami dari orang tua, kalau dari rumah
saja, dari kecil sudah dibilangin “jangan bergaul ya sama itu ya, nanti merusak
agama kita” kalo seperti itu sudah repot. Jadi bagaimana pun tentu tugas orang
tua dimulai dari rumah, bagaimana mengajarkan anak anak tetap berpegang teguh
pada agama tapi juga harus memperhatikan nilai nilai tadi itu, pergaulan, nilai
nilai social, saling menghormati, menghargai, tenggang rasa itu mesti di pupuk
dan ditanamkan dan juga yang paling penting adalah bersahabat sebanyak mungkin
orang dari berbagai latar belakang agama dan kebudayaan.
Kemudian yang kedua,
peran dari tokoh agama. Nah kalo tokoh agama Cuma menekankan pentingnya ajaran
agamanya tanpa dia mengajarkan rasa kasih sayang sesama makhluk Tuhan ya itu
gampang di provokasi nya, artinya peran tokoh agama itu juga penting. Makanya
tokoh agama itu dituntut untuk bagaimana jemaat makin dalam iman nya, makin tinggi
kerohaniannya, tetapi juga tidak pudar rada kasih sayang nya itu. Artinya
sebagai sesame maklhuk hidup ciptaan Tuhan harus salinf mengasihi, saling
menghargai, saling menghormati itu harus terus dijaga dan dipelihara. Dan saya
percaya sih sebetulnya kalo kita mendalami agama masing2, semuanya mengajarkan
tentang kasih dari Kristen, Buddha, konghucu itu ada baiknya makanya sempet
keluar kan peraturan dari menteri agama itu tentang berdaqwa itu, ya makanya
ada aturan aturan dibahas khusus supaya jangan dari tempat ibadah timbul
provokasi yang meningkatkan dan mempertebal rasa yang tadi itu, seperti
kebencian.
Dan yang ketiga tentu peran pemerintah. Hal ini
adalah tentu fkud. Jadi kaya saya pernah ikut binakder kerukunan. Jadi fkud ini
dapat menjaga dan meningkatkan kerukunan diantara umat, jadi sering bertemu
kata ketua fkud kita kan kan prof suparman itu, sering bertemu itu menjadi
kunci. Kenapa? karena orang yang sering bertemu aja bisa membenci apalagi yang
tidak pernah bertemu. Coba deh orang pacaran, orang sering ketemu aja masih ada
berantemnya apalagi pacaran ga pernah ketemu pasti curigaan terus, yang sering
ketemu aja pasti ada ributnya. Maka itu untuk menjaga kerukunan dan mencegah
radikalisme tentu pemerintah harus memfasilitasi, mempertemukan mulai dari
elitis tokoh tokoh agama, maupun ke akar rumput. Bikin acara kebeersamaan yang
sifatnya social kemanusiaan. Apa yang dimiliki oleh umat Buddha, ayo kita
kerjain sama sama untuk lingkungan, apa yng dimiliki umat muslim, kelebihan
apa, ayo kita lakukan bersama sama. Nah itu lah dari hasil terakhir konsolidasi
beberapa bulan lalu ya tahun 2017 ini di prakasai oleh MUI provinsi banten, itu
yang akan kita lakukan kedepannya di banten, jadi sudah ada kesepakatan bersama
para pimpinan majelis agama untuk saling ayo apa yang kamu punya, apa yang jadi
kelebihan mu mari kita lakukan sama sama. Kalo ada misalnya kuat dibidang
pengobatan, klinik gratis yaudah kits sama sama garap di daerah mana. Itu sudah
ada konsolidasi ke situ utnuk pergerakan akan kedepannya.
4.3
Narasumber : Bhikkhu Kittipañño
Tokoh agama : Buddha
Lokasi : Vihara Siddharta, Jl. Manunggal V No.22, RT.2/RW.3,
Parigi Baru, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan,
Banten 15228
Hari, Tanggal : Jumat, 7 Desember 2017
Waktu : 15:30-16:00(perjalanan) 16:00 – 18:00
Transkrip Wawancara :
·
Apa pandangan
bapak/ibu mengenai radikalisme agama di Indonesia?
Radikalisme agama di Indonesia
adalah hal yang tidak patut terjadi, sebelum kita ke situ, radikalisme itu apa
sih?
Suatu kelompok atau satu orang yang
ingin mencapai satu tujuan dengan cara apapun, dengan cara negatif pun dia
lakukan, terutama dengan cara penekanan, intimidasi, segala macam.
Sepatutnya di Indonesia tidak boleh
terjadi, karena dasar negara kita sudah jelas memfasilitasi keberagaman,
perberbedaan. Dari aceh sampai papua kulitnya beda-beda, matanya beda-beda,
bahasanya aja beda, makanannya beda, apalagi agama. Kita sekarang ini ada 6
agama dan juga ada kepercayaan-kepercayaan lain, kepercayaan leluhur-leluhur
mereka.
Kalau satu kelompok memaksakan
untuk kita menjadi sama itu hal yang sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal.
Contoh simpelnya adalah untuk makanan saja orang sukanya berbeda-beda, misalnya
anda tidak suka makan sayur kalau dipaksa makan sayur enak tidak? Apalagi
mengenai satu pola pikir, cara hidup seseorang dipaksa, itu adalah hal yang
tidak mungkin dan tidak pantas dilakukan. Kita sendiri tidak mau dipaksa, orang
lain juga tidak mau dipaksa, diseragamkan.
·
Menurut pandangan
bapak/ibu mengapa radikalisme agama terjadi di Indonesia?
Dampak radikalisme
adalah pertama perpecahan, karena kita di Indonesia ini multikultural,
multiagama, multibudaya, multikepercayaan semuanya itu berbeda-beda. Kedua
adalah tekanan mental (ketakukan, terror), seperti ada pemaksaan, jadi ada
sebagian atau sekelompok orang itu merasa tertekan dan tidak nyaman, dari segi
keamanan pun menjadi selalu was-was karena kemana-mana kita pergi kalau
memiliki perbedaan pendapatan dengan suatu kelompok akan menjadi ketakutan, ketakutan
untuk dipukuli atau dipaksa untuk harus mempercayai paham tertentu. Padahal di
Indonesia dasar negaranya pun Pancasila, dimana memfasilitasi untuk setiap
warganya memeluk agama yang berbeda, maka setiap orang berhak memeluk agamanya
masing-masing.
·
Apakah radikalisme
agama sesuai dengan ajaran agama?
Di Buddhisme tidak ada
satu ajaran pun didalam kitab suci yang menganjurkan untuk melakukan kekerasan,
membenci orang, menjadi serakah, untuk ingin menguasai kekuasaan. Semua agama
pun seperti tidak ada yang mengajarkan kekerasan.
·
Dalam konteks
Indonesia, apakah radikalisme agama menjadi ancaman terhadap nilai-nilai
Pancasila?
Radikalisme merusak,
karena kita negara multiagama, multikultural jadi kalau ada radikalisme kan
bersifat mengintimidasi jadi harus sama, namun jika sama itu akan menjadi
negara komunis, sedangkan Indonesia adalah Pancasila, dimana Ketuhanan yang
Maha Esa, bukan Tuhan. Sebenarnya ancaman terhadap nilai Pancasila ini berasal
dari perpecahan tergantung bagaimana pemerintah menyikapinya dan mengambil
keputusan untuk mengatasinya, karena sudah jelas melanggar undang-undang.
·
Bagaimana
mengatasi, mencegah atau mengurangi radikalisme agama?
Semua diawali dari
rumah, dari diri kita sendiri, memahami diri kita sendiri, setelah itu tularkan
pada orang lain, teman. Sebagai mahasiswa harus memiliki peran yang bermanfaat
untuk masyarakat. Kita boleh yakin boleh percaya pada paham kita tapi jangan
mengganggap yang lain tidak benar, karena setiap orang memiliki pandangan yang
berbeda-beda. Keserakahan, kebodohan dan kebencian yang mampu membuat kita
melakukan kesalahan dan menyebabkan radikalisme.
·
Apa peran agama
dalam mengatasi, mencegah atau mengurangi gejala radikalisme agama di
Indonesia?
Sebagai
Buddhisme kita perlu menanamkan : “Jangan berbuat jahat”, “Sucikan pikiran dan
hati”, dan “Kembangkanlah perbuatan baik” dalam pikiran kita. Kemudian 4 Ajaran
Brahmavihara (4 Kediaman batin yang luhur) adalah :
1. Metta (cinta kasih), mengharapkan makhluk
lain bahagia seperti pada manusia, binatang, sekalipun makhluk yang tidak
memiliki bentuk. Kita harus memiliki cinta kasih, tidak ada niat untuk
melakukan kejahatan, menyakiti dan membuat yang lain menderita. Dengan
menanamkan didalam batin dan mengaplikasikan “Semoga Semua Makhluk Hidup
Berbahagia”
2. Karuna (welas asih), tidak menginginkan
orang lain menderita, artinya jika ada orang menderita kita dengan welas asih
ini membantu bagaimana mereka keluar dari penderitaan. Contohnya yayasan Tzu
Chi, atau memberi makan pada kucing dsb.
3. Uppekha (keseimbangan batin), ketika kita
ada masalah, batin kita biasa saja, jangan merasa sangat menderita, ketika kita
bahagia jangan terlalu bahagia tapi biasa saja,. Uppekha merupakan ajaran yang
paling sulit untuk dipraktekkan.
4. Muddita (empati), jika orang lain bahagia
mendapatkan sesuatu kita juga merasakan ikut senang walaupun kita tidak
mendapatkannya. Bukannya ketika orang mendapat hadiah kita menjadi iri hati.
Ditambah pula Hiri dan Ottapa. Hiri (malu pada diri sendiri) dan
Ottapa (takut pada akibat perbuatan jahat). Buddhis juga mempercayai hokum
Kamma, dimana perbuatan baik dan buruk akan membuatkan hasil, benih yang
ditabur akan dituai, dimana melakukan perbuatan yang buruk akan menghasilkan
petaka dan jika melakukan perbuatan baik akan menghasilkan kebahagiaan.
·
Siapa-siapa saja
yang harus bertanggung jawab terhadap usaha mengatasi, mencegah atau mengurangi
radikalisme agama?
Semua
orang memiliki peran penting dalam mengurangi radikalisme, maka dari itu anak
dari generasi penerus bangsa harus memiliki bibit mengenai pemahaman yang baik.
4.4. Pengerjaan proposal : 2 jam 30 menit
4.4. Pengerjaan proposal : 2 jam 30 menit
4.5. Pengerjaan blog : 1 jam
BAB 5
PENUTUP
1.1
KESIMPULAN
Setelah
melakukan wawancara dengan 3 tokoh agama yang kami pilih (Ustad, Pendeta dan
Bikkhu), kami menarik kesimpulan bahwa konflik radikalisme yang terjadi dengan
mengatasnamakan agama tertentu merupakan perbuatan oknum-oknum menyimpang yang
tidak ada kaitannya dengan agama dan ingin mengambil keuntangan tersendiri dari
konflik tersebut. Agama sendiri selalu mengajarkan kita kebaikan, kerukunan,
dan cinta kasih terhadap sesama, oleh karena itulah kita sesama makhluk hidup
harus saling menjaga dan mengasihi satu sama lain.
Agama
juga memiliki peranan penting dalam menciptakan perdamaian. Dengan menjaga
ketentraman dan menerapkan ajaran-ajaran yang di ajarkan oleh agama maka
perdamaian dapat tercipta. Setiap agama pasti mengajarkan hal sama yaitu
toleransi, kasih, menghargai sesama dan menerima perbedaan, yang berbeda
hanyalah dari cara beribadahnya
.
Dialog antar umat beragama juga dapat meningkatkan keharmonisan antar umat beragama dan dapat saling mengerti dan menghargai batasan-batasan yang diterapkan dalam kehidupan beragama satu sama lainnya. Dalam konteks ini, berdialog merupakan salah satu cara kita sebagai umat beragama saling bertukar pikiran dan menghargai kepercayaan masing-masing. Dengan begitu kehidupan rukun beragamapun dapat di jalan dengan adanya keharmonisan dan kerukunan satu sama lainnya dan perdamaianpun dapat terwujud.
Dialog antar umat beragama juga dapat meningkatkan keharmonisan antar umat beragama dan dapat saling mengerti dan menghargai batasan-batasan yang diterapkan dalam kehidupan beragama satu sama lainnya. Dalam konteks ini, berdialog merupakan salah satu cara kita sebagai umat beragama saling bertukar pikiran dan menghargai kepercayaan masing-masing. Dengan begitu kehidupan rukun beragamapun dapat di jalan dengan adanya keharmonisan dan kerukunan satu sama lainnya dan perdamaianpun dapat terwujud.
1.2
SARAN
Saran
dari kelompok kami ialah wawasan agama haruslah di eratkan oleh kepercayaan
yang disertai oleh dukungan Tokoh Agama, sebab sangatlah mudah seseorang
dijerumusi atau dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang dapat mengakibatkan
sebuah penyimpangan agama, baik itu ketidak toleran kepada agama lain atau
bahkan menciptakan sebuah konflik yang didasarkan oleh agama.
Selain
dari Tokoh agama, Kita sebagai masyarakat pun bisa memberikan wawasan atau
pengetahuan umum mengenai kebaikan agama secara universal kepada orang-orang
disekitar kita, seperti menghargai kepercayaan orang lain, bertoleransi
terhadap siapapun, membantu orang lain dalam kesusahan tanpa memandang
agamanya, dan hidup rukun bersama agama-agama yang dianut oleh orang disekitar
kita.
1.3
REFLEKSI
·
Muhammad Auliya Rizqy (2001604353)
Tugas luar kelas CB:Agama ini memberikan saya banyak hal, dan juga mendapatkan pengalaman baru. Mulai dari bertemu dengan tokoh agama yang sebelumnya belum pernah saya temui sampai mendengar tentang sudut pandang mereka dalam menyikapi banyak hal. Pendapat mereka tentang Radikalisme Agama dan bagaimana cara menyikapinya kurang lebih sama. Dari hal tersebut, saya mengetahui bahwa setiap agama mengajarkan toleransi dan mengajarkan kebaikan.
Tugas luar kelas CB:Agama ini memberikan saya banyak hal, dan juga mendapatkan pengalaman baru. Mulai dari bertemu dengan tokoh agama yang sebelumnya belum pernah saya temui sampai mendengar tentang sudut pandang mereka dalam menyikapi banyak hal. Pendapat mereka tentang Radikalisme Agama dan bagaimana cara menyikapinya kurang lebih sama. Dari hal tersebut, saya mengetahui bahwa setiap agama mengajarkan toleransi dan mengajarkan kebaikan.
·
Alessandro
Kotalawala (2001557470)
Dari interview
yang kami laksanakan pada kegiatan wawancara tokoh agama, banyak hal yang dapat
di ambil dari kegiatan itu, bagaimana pandangan mereka tentang kehidupan yang
mulai amburadul, sampai dengan pengenalan agama yang jadi cerminan perilaku kita.
Dan dari situlah saya di ajarkan bagaimana jadi pribadi yang lebih baik lagi
dan tetap semangat menggapai cita-cita yang sudah diimpikan.
·
Brandon Matthew Tristany
(2001579963)
Melalui tugas CB agama dalam
kegiatan wawancara pemuka agama ini, saya
mendapatkan pengalaman yang bermakna
dan sangat bermanfaat yang bisa mengubah
mindset saya bahwa perbedaan itu ada
bukan untuk sebagai pemecah, melainkan
sebagai pemersatu. Ibarat memasak
makanan, dibutuhkan banyak perbedaan untuk
mewujudkan sebuah mahakarya.
Contohnya garam, lada, dan bahan-bahan lainnya
agar menjadikan makanan itu
menjadi satu kesatuan.
·
Nur Rahmat Hidayat (2001578784)
Dari kegiatan ini saya mendapatkan
banyak pengalaman baru serta ilmu baru yg
didapat dari pendapat para pemuka
agama, dan dari situ saya bisa menarik kesimpulan
bahwa tiap agama mengajarkan
kebaikan dan mengedepankan toleransi antar agama,
tidak ada pemaksaan untuk
memeluk dan mempercayai suatu agama.
·
Thariq Hudha Syahdilla Alintar
(2001552835)
Dari kegiatan
CB ini saya mendapatkan pengalaman yang menurut saya cukup
baik dalam mengenal
keragaman beragama diindonesia yang dimana membuat saya
sadar bahwa kita ini
makhluk sosial yang saling membutuhkan tidak secara seagama
melainkan lintas
agama dan saya berharap toleransi antar agama tetap berlangsung
selamanya tanpa
adanya perpecahan yang membedakan kita sebagai makhluk sosial.
·
Veren Helin (2001561562)
Dari projek luar kelas CB Agama ini saya
memahami bahwa agama itu luas, tidak hanya sebatas beriman kepada Tuhan tetapi
juga berbuat baik kepada sesama, bertoleransi dan harus saling menghargai. Kita
boleh memegang teguh ajaran agama kita namun bukan berarti agama yang lain itu
salah, karena sebenarnya semua agama mengajarkan kebaikan. Saya juga mendapat
banyak pelajaran dan solusi-solusi hidup yang mungkin berguna untuk saya
kedepannya. Saya juga menyadari bahwa latar belakang suku, ras dan agama
bukanlah suatu hal yang buruk. Dengan adanya perbedaan kita dapat membuka
wawasan baru tentang kehidupan ini dari pandangan-pandangan orang lain.
·
Yonathan (2001562792)
Dalam kegiatan wawancara ini saya
mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Saya bisa bertemu dengan tokoh-tokoh
agama lain seperti biksu dan ustad serta mendengar pendapat mereka. Dalam
kegiatan ini saya juga dapat berinteraksi dengan tokoh-tokoh dari berbagai
agama. Saya dapat mengetahui bahwa pendapat setiap agama kurang lebih sama dan
selalu mengarah pada kebaikan bersama.
·
Riyos Osvaldo (1801374822)
REFERENSI
LAMPIRAN
Wawancara 1
1.
Tempat wawancara : Masjid Roudhatul Jannah, Villa Melati Mas Blok M
2.
Identitas informan : Ustad
Lukman
3.
Peserta Wawancara : 1.
Muhammad Auliya Rizqy
2. Alessandro Kotalawala
3. Brandon
Matthew Tristany
4. Nur
Rahmat Hidayat
5. Thariq
Hudha Syahdilla Alintar
6. Veren
Helin
7. Yonathan
8. Riyos
Osvaldo (TIDAK HADIR)
4. Waktu dan tanggal wawancara : 13:00-14:00(Perjalanan) 14:00-16:00 / Sabtu, 14 Oktober 2017
5. Foto kegiatan wawancara
Wawancara 2
1. Tempat wawancara : Gereja
Bethel Indonesia Modernland Jl. Honoris Raya,
Kota
Modern, Tangerang
15117, Indonesia
2.
Identitas informan : Pendeta Dony Lubianto, M.Th
3.
Peserta Wawancara : 1.
Muhammad Auliya Rizqy
2.
Alessandro
Kotalawala (TIDAK HADIR)
3.
Brandon Matthew Tristany (TIDAK
HADIR)
4.
Nur Rahmat Hidayat
5.
Thariq Hudha Syahdilla Alintar
6.
Veren Helin
7.
Yonathan
8.
Riyos Osvaldo (TIDAK HADIR)
4.
Waktu dan tanggal wawancara : 13:00-14:00(perjalanan) 14:00 – 15:30 / Jumat, 7 Desember 2017
5. Foto kegiatan wawancara
Wawancara 3
1.
Tempat wawancara : Vihara Siddharta, Jl.
Manunggal V No.22, RT.2/RW.3,Parigi Baru, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan,
Banten 15228
2.
Identitas informan : Bhikkhu Kittipañño
3.
Peserta Wawancara : 1.
Muhammad Auliya Rizqy
2.
Alessandro
Kotalawala (TIDAK HADIR)
3.
Brandon Matthew Tristany
4.
Nur Rahmat Hidayat
5.
Thariq Hudha Syahdilla Alintar
6.
Veren Helin
7.
Yonathan
8.
Riyos Osvaldo (TIDAK HADIR)
4.
Waktu dan tanggal wawancara : 15:30-16:00(perjalanan) 16:00 – 18:00 / Jumat, 7 Desember 2017
5.
Foto kegiatan wawancara





Tidak ada komentar:
Posting Komentar